Ciri-Ciri Kanker Payudara, Gejala dan Penyebab Kanker Payudara

Ada banyak macam penyakit kanker yang menyerang manusia, mulai dari kanker paru-paru, kanker payudara, kanker serviks, kanker hati, kanker usus, dan lainnya, yang bisa menyerang siapa saja.

Bagi wanita, kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang cukup menakutkan dan sebisa mungkin dihindari. Bahkan dari hasil survei Singapore Health Services disebutkan bahwa lebih dari 21% penderita kanker yang didagnosis pada wanita ternyata kategori kanker payudara.

Kanker ini mematikan apabila penderita baru menyadarinya setelah memasuki stadium lanjut alias sudah akut. Jika masih stadium awal, kanker payudara masih memungkinkan untuk diobati atau disembuhkan.

Kanker payudara ini biasanya juga ditandai dengan benjolan kanker pada payudara. Ukuran benjolan ini masih kecil, tidak lebih dari 3 cm dan belum berbahaya karena belum menyebar ke bagian vital lainnya, seperti kelenjar getah bening di bagian ketiak.

Perlu diketahui, kanker payudara ini merupakan jenis tumor ganas yang mematikan akibat pertumbuhan sel kanker yang di luar kendali. Proses pertumbuhan kanker pun berlangsung sekitar 3 tahun, dengan urutan dari stadium awal hingga lanjut.

Kanker akan muncul dan menjadi ganas akibat produksi jaringan ekstra tidak terkontrol sehingga membentuk struktur kelenjar abnormal yang berisiko merusak jaringan organ vital tubuh di sekitarnya. Untuk itu, kenali dan pahami mengenai penyakit kanker payudara ini:

  1. Sadari Gejala Awal Kanker Payudara Sebelum terlambat

Kenali gejala kanker payudara agar cepat diantisipasi penyebarannya

Gejala kanker payudara sebenarnya sedikit banyak bisa mengungkap stadium kanker yang diderita, apakah masih dalam tahap awal atau justru stadium lanjut. Kanker payudara stadium awal identik dengan keluhan benjolan di payudara.

Ukuran benjolan tersebut biasanya tergantung dari besar kecilnya tubuh penderita. Selain gejala umum itu, beberapa gejala berikut ini bisa jadi pertanda awal bahwa kanker itu memang muncul pada penderita:

Kenali benjolan di sekitar payudara

Pertama-tama, Anda harus bisa membedakan benjolan yang terdapat pada payudara, apakah benjolan tersebut benar-benar mengindikasikan atau tanda adanya penyakit kanker payudara, atau hanya sekedar benjolan biasa saja.

Benjolan tanda kanker payudara adalah:

  • Sedikit keras dan hanya terdapat 1 benjolan saja atau tidak ada benjolan di payudara lainnya
  • Kulit payudara tampak pucat, disertai keluarnya cairan pada puting
  • Terdapat rasa nyeri pada benjolan

Benjolan biasa adalah:

  • Benjolan lunak dan terdapat benjolan juga di bagian payudara lainnya
  • Benjolan ini biasanya akan hilang paska menstruasi

Bedakan ukuran dan bentuk payudara untuk ketahui kanker payudara

Biasanya, bentuk dan ukuran payudara pada penderita kanker payudara ini berbeda. Perubahan bentuk dan ukuran itu bisa diketahui dengan mudah, yakni:

  • Bila biasanya memakai bra ukuran 36, kini berubah menjadi ukuran bra 34. Artinya semakin mengecil
  • Muncul kerutan di payudara, yang biasanya hanya terjadi pada wanita usia lanjut usia yakni kasar dan bergelambir

Merasa tidak nyaman dengan kondisi payudara

Perasaan tidak nyaman pada kondisi payudara yang dirasakan sekarang ini bisa jadi akibat rasa nyeri di sekitarnya. Rasa was-was akibat warna memerah pada payudara dan pembengkakan, puting masuk ke dalam, serta payudara terasa lembek juga berkerut membuat perasaan menjadi semakin tidak nyaman.

Selain bentuknya yang berubah, biasanya gejala kanker payudara ini juga akan diikuti rasa gatal. Kemudian kulit menjadi bersisik dan muncul warna kemerahan di area puting.

  1. Gejala Kanker Payudara Stadium Lanjut dan Diagnosanya

Ilustrasi diagnosa mammogram

Jika gejala kanker stadium awal di atas tidak segera mendapatkan tindakan medis, maka bisa menimbulkan risiko kanker yang semakin menggurita dan membahayakan jiwa. Saat stadium kanker sudah lanjut, maka gejala yang muncul biasanya terdapat tanda-tanda seperti berikut:

Rasa sakit pada tulang yang diikuti mual, perut mulas akibat nafsu makan berkurangBerat badan turun drastis dalam jangka waktu yang cepatDalam beberapa kasus, penyakit kuning bisa saja ikut menyertai dengan komplikasi penumpukan cairan di sekitar paru-paru yang membuat penderita susah bernapas

Dalam waktu singkat, penderita biasanya mengalami gangguan penglihatan, otot menjadi lemah yang membuat semakin menderita dan butuh perawatan gawat darurat.

Bagaimana Diagnosis Kanker Payudara?

Gejala kanker payudara yang mirip dengan gangguan kesehatan lainnya dibutuhkan diagnosa medis lebih lanjut. Jika Anda mengalami keluhan di atas, biasanya dokter akan melakukan diagnosa lebih lanjut sebagai berikut:

Mammogram, yakni proses scan dengan X-Ray untuk melihat kondisi payudara dan pertumbuhan jaringanBiopsi, dengan menggunakan alat dan tindakan medis lain untuk memastikan ada kanker payudara atau gangguan kesehatan lain atas keluhan yang terjadi

Diagnosa medis ini bisa dilakukan di rumah sakit terdekat dan dilakukan oleh dokter ahli. Jika ada indikasi komplikasi lain, maka perlu dilakukan pemeriksaan total terhadap kondisi penderita agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat, dan bisa selamat dari risiko komplikasi.

  1. Penyebab dan Risiko Kanker Payudara yang Harus Diwaspadai

Kenali faktor risiko kanker payudara

Kanker payudara bisa jadi disebabkan oleh banyak faktor. Namun yang utama berdasarkan keluhan selama ini disebabkan atau dipicu oleh siklus bulanan hormon normal wanita.

Kondisi wanita dengan periode pertama hingga menopause jangka pendek merupakan kondisi paling berisiko terkena kanker payudara, terutama jika:

Wanita yang masuk usia lebih dari 50 tahun memiliki risiko lebih besar dibanding yang menopause di usia lebih dari 46 tahunKehamilan pertama yang terjadi pada wanita usia di atas 30 tahunWanita yang belum pernah hamil atau bahkan tidak menikah.

Untuk itu, pada wanita dengan risiko besar terserang kanker payudara tersebut perlu mendapatkan penambahan hormon. Nah, di luar faktor tersebut, masih ada risiko lain sekitar 11% penyebab kanker payudara, yakni: Faktor Genetik yang dikenal dengan istilah Gen BRCA1 dan BRCA2.

  1. Bagaimana Pengobatan Kanker payudara?

Ilustrasi penanganan kanker payudara dengan Radioterapi

Jika ternyata Anda terdeteksi kanker payudara secara diagnosis medis, maka tidak perlu khawatir yang berlebihan. Ada beberapa metode pengobatan medis yang bisa dilakukan dokter, tergantung dari kondisi Anda. Beberapa tindakan medis tersebut adalah:

Operasi bedah untuk mengangkat sel kanker

Hampir semua kanker butuh tindakan medis operasi bedah, termasuk kanker payudara. Ini dilakukan dengan memperhatikan kondisi penderita apakah masih bisa mempertahankan payudara tersebut atau membuangnya total jaringan yang terkena kanker.

Operasi yang dibutuhkan dikenal dengan nama mastektomi untuk mengangkat kelenjar getah bening di bawah ketiak secara keseluruhan. Jika masih memungkinkan suntikan medis untuk mematikan sel kanker, juga bisa untuk memprediksi adanya kanker berulang.

Radioterapi

Radioterapi merupakan tindakan medis paling mendasar bagi penderita kanker. Penderita kanker paling umum mendapatkan tindakan medis berupa operasi bedar. Walaupun sudah mendapatkan tindakan medis ini, risiko kambuh masih tetap ada.

Sehingga perlu dilakukan radioterapi di dada agar sel kanker benar-benar mati. Setidaknya tindakan medis ini berlangsung 5 minggu.

Kemoterapi

Penderita kanker, biasanya dalam jangka panjang akan menjalani tindakan medis kemoterapi agar kanker tidak kambuh dan biasanya butuh waktu 4 hingga 6 bulan. Tindakan medis ini punya risiko bagi penderita, mulai dari mual ringan, muntah, rambut rontok, lesu atau kelelahan. Ini akibat dari nafsu makan yang hilang.

  1. Tindakan Medis untuk kanker Payudara Lanjutan

Penanganan medis sangat diperlukan bagi kanker payudara yang sudah lanjut

Kanker payudara stadium lanjut butuh tindakan medis lanjutan termasuk terapi hormon, kemoterapi, atau radioterapi. Radioterapi biasa dikenal dengan istilah medis prognosis kanker payudara, dengan melihat beberapa ciri seperti ukuran kanker payudara, dan banyak atau sedikitnya kelenjar getah bening yang terlibat.

Diagnosa seperti ini paling tepat dilakukan oleh ahli patologi dengan melihat fitur berisiko tinggi seperti keterlibatan pembuluh darah atau saluran getah bening. Kedua bahan itu akan diambil dalam bentuk specimen untuk media cek kondisi medis.

Tujuan dilakukannya diagnosa tersebut untuk melihat kemungkinan kanker berulang dan apakah sel-sel kanker matang atau tidak, sehingga mudah untuk dijinakkan.

Makin Awal Diagnosa, Besar Pula Peluang Sembuh dari Kanker Payudara

Pengobatan kanker payudara memang butuh waktu yang tidak sebentar. Selain itu, juga dibutuhkan kesabaran dan kedisiplinan untuk mengonsumsi obat dari hasil rekomendasi dokter. Biasanya, guna menghindari efek samping, dokter memberikan resep yang tergantung pada tingkat kesehatan secara umum seseorang dan masalah medis lainnya. Oleh karena itu, diagnosa stadium kanker serta faktor risiko ini sangat penting untuk penanganan medis lanjutan.

WASPADAI KANKER SERVIKS

Ini Ciri-ciri Kanker Serviks yang Perlu Anda Waspadai

Kanker serviks merupakan salah satu penyakit berbahaya yang menyerang kaum wanita. Agar terhindar dari bahaya kanker serviks, sangat penting bagi Anda untuk mengetahui ciri-ciri kanker serviks sejak dini.

Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan penyakit kanker yang menyerang leher rahim pada organ reproduksi wanita, dan disebabkan oleh Human Papilloma Virus atau HPV. Kondisi ini umumnya disadari ketika telah memasuki stadium lanjut. Karena itu, selain melakukan pemeriksaan rutin, Anda perlu mengamati berbagai ciri-ciri kanker serviks, agar bisa dikenali sejak dini dan dilakukan pengobatan secepatnya.

Ciri-Ciri Kanker Serviks

Meskipun penyakit kanker serviks seringkali sulit untuk dikenali sejak dini, namun kita perlu mengetahui beberapa ciri-ciri kanker serviks secara umum agar dapat diwaspadai. Berikut ciri-ciri kanker serviks yang perlu Anda ketahui:

Pendarahan vagina yang tidak normal
Ketika wanita mengalami kanker serviks, gejala yang biasanya muncul adalah perdarahan yang tidak normal pada vagina. Perdarahan ini dapat terjadi lebih banyak atau pun lebih sedikit dari menstruasi biasanya, dapat terjadi di antara periode menstruasi, atau pada wanita yang sudah menopause. Pendarahan vagina juga dapat terjadi saat berhubungan seksual.Mengalami keputihan yang tidak biasa
Ciri-ciri kanker serviks lainnya adalah keputihan yang tidak normal. Lendir pada keputihan akan mengalami perubahan warna, memiliki aroma yang tidak sedap atau bau, serta terjadi perubahan tekstur dan konsistensi cairan vagina. Keputihan yang tidak biasa ini juga bisa disebabkan oleh penyakit lain, karena itu sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk memastikan penyebabnya.Rasa nyeri saat berhubungan intim
Kanker serviks yang sudah memasuki stadium lanjut, akan memunculkan tanda yang lebih beragam. Salah satunya adalah nyeri panggul saat berhubungan intim. Rasa nyeri yang timbul membuat Anda merasa tidak nyaman sewaktu berhubungan intim. Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami nyeri panggul saat berhubungan intim, untuk memastikan apakah kondisi ini tanda penyakit kanker serviks atau akibat penyakit lain, seperti endometriosis atau fibroid.Frekuensi buang air kecil meningkat
Para wanita nampaknya harus berhati-hati jika merasakan sakit ketika buang air kecil dan tidak bisa menahan keinginan untuk ke kamar kecil, karena bisa jadi ini merupakan ciri-ciri kanker serviks. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh sel kanker yang tumbuh mengelilingi leher rahim, lalu menyebar hingga ke kandung kemih. Namun gejala ini juga bisa muncul akibat infeksi saluran kemih (ISK), sehingga Anda perlu ke dokter untuk memastikannya.Mudah lelah
Ciri lain yang akan muncul apabila Anda menderita kanker serviks adalah mudah lelah. Kondisi ini terjadi akibat perdarahan yang tidak normal pada vagina, sehingga lama kelamaan tubuh mengalami kekurangan sel darah merah (anemia), yang membuat tubuh menjadi cepat lelah. Rasa lelah biasanya akan berlangsung setiap saat dan tidak hilang meskipun Anda telah beristirahat cukup.Pembengkakan di salah satu tungkai
Ketika kanker serviks memasuki stadium lanjut, biasanya akan menimbulkan berbagai komplikasi. Salah satunya adalah pembengkakan pada tungkai. Kondisi ini dapat terjadi ketika sel kanker menekan pembuluh darah di panggul, sehingga menghambat sirkulasi ke tungkai. Akibatnya, terjadi penimbunan cairan yang membuat tungkai menjadi bengkak.Kehilangan nafsu makan
Wanita yang terkena kanker serviks akan mengalami penurunan atau bahkan kehilangan nafsu makan. Hal ini dikarenakan penyebaran sel kanker yang membuat tubuh sulit menerima asupan makanan. Selain itu, penurunan berat badan drastis yang tidak diketahui penyebabnya, juga perlu dicurigai sebagai gejala kanker.Mengalami sembelit
Jika kanker serviks telah menyebar hingga ke usus besar, akan berpotensi menyebabkan konstipasi atau sembelit. Kondisi ini dapat terjadi saat kanker serviks sudah memasuki stadium lanjut.Bercak darah di urine (hematuria)
Jika sedang berkemih dan melihat urine bercampur darah, segera konsultasikan ke dokter. Bisa jadi itu merupakan salah satu tanda Anda terkena kanker serviks.Keluar urine atau fases dari vagina
Kanker serviks dapat juga memengaruhi fungsi vagina. Saat sudah memasuki stadium lanjut, kanker servis dapat menimbulkan kebocoran urine atau keluarnya tinja dari vagina. Hal ini bisa terjadi akibat terbentuknya fistula antara vagina dan saluran kemih, atau fistula aniantara vagina dan anus, sehingga urine dan fases dapat melewati vagina.

Berbagai ciri-ciri kanker serviks di atas bisa juga disebabkan oleh penyakit atau kondisi lain pada tubuh Anda. Bagi wanita yang sudah aktif berhubungan seksual, disarankan melakukan pap smear setidaknya tiga sampai lima tahun sekali, atau ikuti anjuran dokter.

Deteksi dini kanker serviks penting dilakukan karena semakin dini kanker terdeteksi, maka harapan sembuh dari kanker serviks akan lebih tinggi. Selain itu, vaksinasi HPV untuk pencegahan kanker serviks juga penting untuk Anda dapatkan. Jika terdapat tanda gejala di atas, jangan ragu untuk konsultasikan ke dokter.

Mengenal Berbagai Penyebab Kanker

Kanker merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan menjadi salah satu penyakit yang paling mematikan di dunia. Meski begitu penyakit ini bisa dicegah, ditangani, dan disembuhkan. Mengenal berbagai penyebab kanker bisa membantu Anda menurunkanrisiko, bahkan mencegah penyakit kanker.

Kanker adalah istilah yang digunakan untuk mengelompokkan penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel yang tidak terkontrol. Pertumbuhan sel yang tidak normal ini awalnya terjadi di bagian tubuh tertentu, kemudian dapat menyebar ke bagian tubuh lain, bahkan mampu menembus serta menghancurkan jaringan tubuh normal. Di dunia kedokteran, terdapat lebih dari 200 jenis kanker berdasarkan asal jaringan tempat sel tersebut tumbuh.

Penyebab dan Faktor Risiko Kanker

Segala hal yang menyebabkan sel di dalam tubuh berkembang secara tidak normal berpotensi menyebabkan kanker, salah satunya adalah perubahan genetik atau mutasi DNA di dalam sel. DNA merupakan sebuah paket yang terdiri dari gen. Tiap gen membawa “instruksi” yang mengatur fungsi sel di dalam tubuh. Kesalahan “instruksi” di dalam gen bisa menyebabkan fungsi sel tidak normal, sel tumbuh secara tidak terkontrol, dan akhirnya bersifat kanker.

Mutasi DNA bisa terjadi karena pengaruh genetik atau keturunan dari orang tua. Kondisi ini juga bisa dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti:

Paparan zat kimia dan radiasi secara berlebihan.Virus, seperti human papilloma virus (HPV).Paparan sinar matahari terus menerus.Obesitas, hormon, atau peradangan.Kebiasaan merokok dan gaya hidup.

Risiko kanker bisa meningkat seiring bertambahnya usia. Meski kondisi ini bisa terjadi pada segala usia, namun umumnya orang-orang yang didiagnosis mengalami kanker berusia 65 tahun ke atas. Selain usia, di bawah ini adalah beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko kanker:

Kondisi kesehatan tertentu
Beberapa kondisi kesehatan yang menyebabkan peradangan di dalam tubuh juga bisa meningkatkan risiko kanker, misalnya penyakit radang usus kronis.Riwayat kesehatan keluarga

Kanker bisa diwariskan di dalam keluarga, meskipun kemungkinannya kecil. Jika terdapat riwayat kanker dalam keluarga, Anda lebih berisiko mengalami kanker.

Pengaruh lingkungan
Ada banyak zat kimia berbahaya yang terdapat di lingkungan, salah satunya dari asap rokok. Zat atau bahan yang dapat memicu timbulnya kanker disebut karsinogen.Gaya hidup
Risiko kanker akan meningkat pada orang-orang yang memiliki kebiasaan merokok, mengonsumsi alkohol secara berlebihan, atau melakukan seks bebas.

Cara Mencegah Kanker

Sekitar 30 sampai 50 persen dari keseluruhan penyakit kanker bisa dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat, serta dengan melakukan imunisasi untuk menghindari infeksi yang bisa menyebabkan kanker. Sisanya, bisa disembuhkan apabila dideteksi sejak dini, diobati dengan segera, dan menggunakan metode penanganan yang tepat.

Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah kanker.

Mengonsumsi makanan sehat, seperti sayur dan buah, protein, serta lemak sehat, membatasi konsumsi daging olahan, menghindari alkohol dan berhenti merokok.Menjaga berat badan agar tetap ideal dengan cara rutin olahraga minimal 30 menit setiap hari.Melindungi diri dari paparan sinar matahari dengan pakaian atau tabir surya, terutama antara pukul 10 pagi sampai pukul 4 sore.Hindari kebiasaan melakukan tanningatau menggelapkan kulit, baik secara alami di bawah sinar matahari maupun dengan tanning bed.Menghindari hal-hal yang bisa meningkatkan risiko kanker, misalnya melakukan seks bebas, berbagi pakai jarum suntik, atau menggunakan narkoba.Melakukan vaksinasi terhadap infeksi virus yang bisa memicu terjadinya kanker, misalnya virus hepatitis B dan HPV.

Perubahan tertentu pada tubuh, seperti munculnya benjolan atau perdarahan secara tiba-tiba, bisa menjadi gejala awal terjadinya kanker. Jika Anda mengalami gejala tersebut, sebaiknya jangan diabaikan. Segera periksakan diri ke dokter untuk mengetahui gangguan yang terjadi. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang Anda untuk sembuh dan terhindar dari komplikasi berbahaya.

Apa itu kanker otak?

Apa itu kanker otak?

Kanker otak adalah kondisi di mana tumbuhnya tumor ganas di otak. Penyakit ini dibagi menjadi dua tipe. Terdiri dari kanker otak primer (terhitung terjadi sebanyak 75 persen dari seluruh kasus tumor otak) yang penyebabnya datang dari otak, dan kanker otak sekunder (25 persen dari seluruh kasus kanker otak) yang muncul dari bagian tubuh lain dan menyebar sampai ke otak.

Sekitar 40 persen kanker otak diawali dari penyangga neuron yaitu sel tumor Glial. Sel U glial termasuk juga tumor astrocytes, tumor glia primer, oligodendrocytes glioma, meningioma ventricular, dan medulloblastoma.

Tipe kanker otak sekunder biasanya disebabkan oleh penyebaran dari kanker lain, seperti kanker payudara, paru-paru, ginjal, usus besar, dan melanoma pada kulit. Kanker otak  adalah kondisi yang tidak dapat dihindari tapi sebagian besar dapat ditangani jika terdeteksi sejak awal.

Seberapa seringkah kanker otak terjadi?

Kanker otak sekunder lebih sering terjadi pada orang dewasa. Kanker otak primer bisa menyerang siapa saja tapi lebih sering untuk anak usia di bawah 15 tahun dan orang-orang usia paruh baya.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala kanker otak?

Sakit kepala berkepanjangan adalah gejala umum kanker otak karena tumor tumbuh menekan tengkorak. Sakit kepala biasanya terjadi di pagi hari setelah bangun dan semakin sakit ketika batuk dan bersin.

Gejala lain tergantung pada lokasi tumor, tetapi juga bisa mengakibatkan perubahan kebiasaan Anda sehari-hari. Berikut merupakan gejala kanker otak:

  • Sakit kepala, terutama di pagi hari. Sakit kepala bisa terasa ringan atau bahkan terasa berat
  • Kelemahan otot yang sering terjadi di salah satu sisi tubuh
  • Parestesi, tubuh seperti merasa seperti ditusuk jarum dan kesemuran
  • Tubuh sulit untuk seimbang dan koordinasi pada gerakan tubuh berantakan
  • Kesulitan berjalan, lengan dan kaki kadang juga menjadi lemah
  • Kejang

Gejala dan tanda-tanda kanker otak lainnya yang mungkin bisa terjadi termasuk:

  • Perubahan status mental. Ini bisa berupa perubahan konsentrasi, ingatan, perhatian, bahkan kebingungan tanpa sebab
  • Merasakan mual dan muntah terutama di pagi hari dengan yang bisa disebabkan oleh vertigo
  • Kelainan dalam penglihatan (misalnya, penglihatan ganda, penglihatan kabur, hilangnya penglihatan tepi)
  • Kesulitan berbicara ( yang diakibatkan oleh gangguan suara)
  • Perubahan bertahap dalam kapasitas intelektual atau emosional. Misalnya, sulit atau mengalami ketidakmampuan untuk berbicara yang diikuti dengan tidak paham dengan apa yang lawan bicaranya katakan.

Pada banyak orang, gejala-gejala di atas mungkin diabaikan karena gejala tidak berlangsung signifikan. Gejala kanker otak bisa tumbuh dan berjalan lama, namun kadang-kadang, gejala-gejala ini juga bisa muncul lebih cepat.

Dalam beberapa kasus, orang mungkin mengira gejala kanker otak yang dialami adalah kondisi stroke, padahal bukan. Pada beberapa pasien, gejalanya mungkin lebih jelas, terutama jika kanker terletak di lobus otak tertentu, yang biasanya bertanggung jawab untuk fungsi tubuh.

Gejala-gejala lain mungkin tidak disebutkan di atas. Jika Anda mempunyai pertanyaan tentang gejala tertentu, segera konsultasi ke dokter.

Kapan saya harus ke dokter?

Pergilah ke dokter atau rumah sakit segera jika Anda mengalami pusing yang berkelanjutan, terkadang disertai kejang-kejang, atau gejala lain yang disebutkan di atas.

Gejala dan tanda yang dialami dapat bervariasi pada tiap orang. Diskusikan dengan dokter tentang metode diagnosis yang disepakati, penanganan, dan tentunya pengobatan terbaik untuk Anda.

Stadium Kanker

Tahap perkembangan stadium kanker

Pertumbuhan dan gejala kanker otak bervariasi, tergantung stadium perkembangan kankernya. Sel-sel dalam tumor yang tumbuh cepat dan agresif biasanya jika dilihat di pada mikroskop terlihat abnormal.

The National Cancer Institute (NCI) menggunakan sistem stadium penilaian untuk mengklasifikasikan tumor ganas. Berikut stadiumnya:

  • Stadium I: Jaringan kanker di otak masih jinak. Sel-sel terlihat hampir seperti sel-sel otak normal, dan pertumbuhan selnya cenderung lambat.
  • Stadium II: Jaringan kanker sudah mulai ganas. Sel-sel kanker mulai terlihat tidak normal, tidak seperti sel kanker stadium 1.
  • Stadium III: Jaringan kanker yang ganas memiliki sel yang terlihat sangat berbeda dari sel normal. Sel-sel abnormal ini disebut sebagai anaplasik dan mulai tumbuh secara aktif di stadium ini.
  • Stadium IV: Jaringan kanker ganas mulai menunjukkan sel-sel abnormal yang jelas dan tumbuh agresif atau sangat cepat.

Untuk menentukan pertumbuhan dan perkembangan tumor di otak, dokter fokus pada karakteristik tumor dan efeknya pada fungsi otak. Faktor utama yang digunakan untuk menilai tumor otak meliputi:

  • Ukuran dan lokasi tumor atau kanker di otak
  • Jenis  atau jaringan atau sel  apa yang memengaruhi otak
  • Resectability (kemungkinan dari seberapa besar tumor dapat dihilangkan lewat operasi kanker)
  • Seberapa menyebar nya sel kanker di otak atau sumsum tulang belakang
  • Kemungkinan kanker telah menyebar ke bagian luar otak atau tidak

Dokter nantinya juga akan mempertimbangkan usia pasien serta gejala-gejala kanker di otak. Pasien juga akan dilihat, seberapa besar fungsi-fungsi dasar, seperti ucapan, pendengaran atau gerakan terganggu atau berubah akibat sel kanker pada otak.

Menentukan stadium  kanker di otak, caranya cukup jauh berbeda dari penentuan stadium kanker lain di dalam tubuh.

Kanker di paru-paru, usus besar, dan payudara dipetakan berdasarkan lokasi di dalam tubuh, ukuran, keterlibatan kelenjar getah bening, dan kemungkinan penyebaran. Sedangkan tumor ganas di otak dinilai berdasarkan seberapa agresif (ganas) sel-sel tumor muncul di bawah mikroskop.

Tingkat dan kemampuan berkembang tumor juga akan membantu dokter atau ahli membuat keputusan pengobatan. Pembedahan tergantung pada kondisi tumor seperti dimana lokasinya, seberapa besar atau kecil ukurannya, seberapa luas penyebaran sel kanker dan pastinya melihat kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan (termasuk riwayat medis).

Penyebab

Apa penyebab kanker otak?

Kanker otak adalah kondisi yang tidak dapat disimpulkan secara pasti. Pasien bisa tahu apakah mereka mengalami kondisi ini hanya melalui gejala dan diagnosa yang tepat dari dokter.

Para periset menemukan beberapa perubahan yang terjadi pada sel otak normal bisa menyebabkan mereka membentuk tumor dan berakhir menjadi otak.

Tumor otak primer muncul dari banyak jenis jaringan otak (misalnya sel glia, astrocyte, dan jenis sel otak lainnya). Sementara kanker otak metastatik disebabkan oleh penyebaran sel kanker dari organ tubuh ke otak.

Namun, penyebab perubahan dari sel normal ke sel kanker pada tumor otak metastatik dan primer tidak sepenuhnya dipahami. Data yang dikumpulkan oleh para ilmuwan penelitian menunjukkan bahwa orang-orang dengan faktor risiko tertentu lebih mungkin berisiko kanker di otak.

Dikutip dari Medicine.Net, orang yang bekerja atau berada lama di lingkungan seperti di kilang atau pengeboran minyak, penangan bahan bakar, bahan kimia, ahli kimia, pembalsem, atau pekerja industri karet, berisiko  lebih tinggi terkena kanker otak daripada masyarakat yang bekerja di lingkungan selain tersebut.

Selain itu, risiko keturunan seperti anggota keluarga yang memiliki riwayat kanker di otak juga dapat memengaruhi. Namun, faktor keturunan (peralihan genetik sifat dari orang tua ke anak-anak) sebagai penyebab tumor otak belum terbukti.

Sementara faktor risiko lain seperti merokok, paparan radiasi, dan infeksi virus (HIV) telah banyak diduga menjadi penyebabnya, akan tetapi tidak terbukti menyebabkan kanker di otak.

Tidak ada bukti yang baik bahwa kanker di otak menular lewat trauma di kepala atau disebabkan oleh penggunaan telepon seluler. Pernyataan aspartam atau pemanis buatan bisa menyebabkan kanker otak pun juga belum terbukti. Bahkan, FDA atau setara dengan BPOM di Amerika berpendapat bahwa itu tidak menyebabkan kanker di otak.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk kanker otak?

Jika Anda merasakan beberapa gejala kanker otak seperti yang disebutkan di atas, segera buat jadwal konsultasi dan pemeriksaaan dokter sesegera mungkin. Faktor-faktor berikut ini mampu meningkatkan risiko kanker otak, di antaranya:

  • Usia senja
  • Paparan radiasi
  • Keturunan

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk kanker otak?

Tindakan berikut dapat digunakan untuk menangani kanker otak termasuk operasi pengangkatan tumor, terapi radiasi, atau kemoterapi.

1. Operasi pengangkatan kanker di otak

Operasi mengangkat tumor ganas di otak ini dilakukan dengan cara mencoba mengangkat semua sel tumor dengan memotong tumor. Dokter akan meninggalkan jaringan otak normal. Pembedahan ini melibatkan pembukaan tengkorak (kraniotomi), yang sering disebut operasi invasif.

Beberapa kanker yang menyerang otak tidak semuanya dapat dioperasi oleh ahli bedah, karena dalam beberapa kasus operasi justru bisa menyebabkan otak bertambah rusak bahkan mengancam nyawa. 

Pasien dengan diagnosis tumor otak yang tidak dapat dioperasi, biasanya akan diberikan berbagai saran atau pilihan pengobatan sebagai alternatifnya. 

Jika pasien hendak dioperasi, dokter akan mempertimbangkan tipe dan posisi tumor yang akan menentukan apakah operasi pengangkatan tumor dapat berhasil atau tidak. Selain itu, pembedahan juga dapat memberikan diagnosa kanker dan mengurangi tekanan pada otak.

2. Kemoterapi

Kemoterapi adalah tindakan yang umum dilakukan dalam penanganan kanker otak, tapi tidak untuk jenis tumor otak primer. Dokter juga akan memberikan obat anti kejang seperti phenytoin yang sering digunakan sebelum dan sesudah operasi. Untuk pembengkakan otak, dokter akan menyarankan penggunaan obat steroid (dexamethasone).

Cara kerja kemoterapi adalah dengan menghancurkan sel-sel tumor di dalam tubuh menggunakan bahan kimia (obat-obatan) tertentu. Obat kemoterapi akan mematikan sel-sel yang tumbuh dan membelah dengan kecepatan yang abnormal, termasuk sel kanker.

Tidak seperti operasi atau terapi radiasi, kemoterapi tidak menargetkan pada suatu area secara spesifik, sehingga dapat berefek pada seluruh tubuh. Karena itulah hasilnya juga akan efektif pada sel kanker yang telah menyebar (bermetastasis) pada bagian tubuh lain.

Sayangnya, kemoterapi adalah perawatan yang juga akan memengaruhi sel-sel tubuh yang sehat secara cepat seperti sel kulit, rambut, usus, dan sel sumsum.

3. Radiasi atau radioterapi

Radioterapi adalah cara pengobatan yang mengandalkan radiasi dengan menggunakan gelombang energi tinggi seperti, sinar x, gama, proton, dan elektron untuk membunuh sel kanker.

Walaupun radioterapi paling sering digunakan untuk mengobati pasien kanker, tetapi terkadang terapi ini juga dipakai untuk mengobati pasien non-kanker, seperti tumor dan gangguan pada kelenjar tiroid.

Radioterapi bekerja dengan cara merusak DNA yang mengatur pembelahan diri sel kanker, sehingga sel tidak lagi bisa berkembang dan bahkan mati.

Pengobatan ini juga bisa memengaruhi perkembangan sel-sel normal, tetapi efek samping yang ditimbulkan akan hilang jika sudah tidak melakukan terapi.

Tidak seperti kemoterapi yang mempengaruhi seluruh bagian tubuh karena menggunakan aliran darah sebagai perantaranya, radioterapi adalah pengobatan lokal yang bertujuan untuk menurunkan jumlah sel kanker tanpa harus merusak sel-sel serta jaringan yang ada di sekitar sel kanker.

Tetapi radioterapi tidak selalu langsung berhasil membunuh sel kanker atau sel normal yang sedang tumbuh. Untuk membuatnya mati dan tidak tumbuh kembali, maka dibutuhkan waktu beberapa hari atau bahkan minggu.

Jaringan normal yang sering kali terkena dampak radiasi adalah jaringan tubuh yang melakukan pembelahan secara terus-menerus, seperti kulit, beberapa jaringan dalam sistem pencernaan, serta sumsum tulang.

Oleh karena itu, efek samping akan timbul beberapa waktu setelah melakukan radioterapi seperti lelah dan kulit bermasalah seperti gatal atau iritasi akan muncul sehabis melakukan terapi.

Apa saja tes kesehatan yang biasa digunakan untuk mendeteksi kanker otak?

Satu-satunya cara untuk memastikan diagnosis adalah mengambil sampel jaringan dari tumor dan melakukan uji mikroskop. Pengujian dapat dilakukan dengan biopsi atau bedah.

Sebelumnya, para dokter menggunakan citra resonansi magnet (MRI) untuk mencari kanker, selain juga tomografi (CT)

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kanker otak?

Kanker otak adalah penyakit yang bisa dikurangi risiko dan gejalanya lewat haya hidup dan perawatan rumah berikut ini:

  • Koordinasi dengan dokter termasuk dalam pembedahan neuron (khusus bedah dan tulang belakang), dokter yang mempunyai spesialisasi  kanker sistem saraf, terapis radiasi untuk penanganan kanker, dan dokter keluarga Anda.
  • Lakukan pemeriksaan ulang dengan dokter Anda. Bisa melalui CT, MRI, atau tes darah untuk mengecek kanker dan dosis obat Aanda dengan tepat.
  • Temui dokter sesegera mungkin jika Anda mengalami kejang-kejang atau sakit kepala baru yang sebelumnya tidak ada, untuk mencegah komplikasi penyakit.

Deteksi Dini Kanker Payudara

Baik di negara maju maupun berkembang, kanker payudara masih menjadi jenis kanker yang paling banyak dialami wanita. Angka kasus penderita kanker payudara kian meningkat setiap tahunnya, dipengaruhi beragam faktor seperti angka ekspektasi kelahiran yang tinggi, meningkatnya urbanisasi dan juga adaptasi gaya hidup Barat yang tidak sehat.

Meski kerap terjadi baik di negara maju dan berkembang, kasus penderita kanker payudara lebih banyak terjadi di negara berkembang, di mana pendapatan ekonomi masyarakatnya termasuk rendah. Kondisi tersebut pula yang memengaruhi faktor memburuknya kanker, karena kecenderungan masyarakat di negara berkembang yang baru memeriksakan kondisinya dan mengetahui bahwa mereka mengidap kanker saat kondisi sudah pada stase akhir.

Merujuk pada kondisi tersebut, pemerintah melalui Departemen Kesehatan harus memberikan petunjuk kepada masyarakat untuk mendeteksi gejala penyakit kanker payudara sejak dini.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan metode screening mamografi sebagai salah satu metode untuk mendiagnosa kanker payudara sejak dini. Metode pemindaian menggunakan sinar X rendah ini terbukti efektif dalam mencegah perkembangan kanker ke stadium lebih lanjut. Metode ini dapat mendeteksi adanya benjolan di payudara dua tahun sebelum seseorang benar-benar merasakannya. Selain itu, pemindaian lebih lanjut juga bisa menentukan apakah benjolan yang dimiliki berpotensi menjadi sel kanker.

Sebelum seseorang memutuskan untuk melakukan pemindaian mamografi atau mammography screening, ia dapat mendeteksi gejala kanker payudara sendiri tanpa harus keluar rumah. Di Indonesia, cara mudah ini kerap dikenal dengan istilah SADARI atau Periksa Payudara Sendiri. Untuk melakukannya, seseorang perlu menunggu tiga sampai lima hari setelah masa menstruasi berakhir. Hal itu dikarenakan perubahan tingkat hormon pada saat menstruasi kerap membuat perubahan sementara pada bentuk payudara, di mana payudara akan lebih kencang dan padat. Tahap untuk melakukan pemeriksaan payudara secara mandiri ini cukup sederhana, Anda hanya perlu berdiri di depan cermin dengan menaruh lengan di sisi tubuh, lalu perhatikan bentuk dan warna payudara dengan seksama. Perhatikan apakah terdapat benjolan atau perubahan bentuk dan ukuran payudara atau perubahan bentuk dan warna pada puting. Tahap terakhir adalah mengecek apakah terdapat cairan yang keluar dari puting, dengan cara menekan lembut puting menggunakan jempol dan jari telunjuk.

Menurunkan Risiko Kanker dengan Makanan Sehat dan Berolahraga

Penyakit kanker merupakan momok menakutkan yang menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di seluruh dunia. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia WHO, pada tahun 2015 ada sebanyak 8,8 juta manusia yang meninggal akibat kanker. Angka tersebut menandakan bahwa kanker menjadi satu dari enam penyakit paling mematikan yang memengaruhi angka mortalitas dunia. Meski begitu, 30 hingga 50% dari kasus penyakit kanker ternyata masih dapat dicegah. Pencegahan kanker bisa dilakukan dengan mengaplikasikan strategi jitu agar masyarakat sadar akan bahayanya penyakit ini, salah satunya dengan memberikan informasi dan dukungan untuk menerapkan gaya hidup sehat.

Gaya hidup sehat bisa diimplementasikan dengan beragam cara, salah satunya adalah dengan membiasakan diri mengonsumsi makanan dan minuman sehat atau dengan beraktivitas fisik atau olahraga.

Menjaga asupan makanan yang masuk ke tubuh bisa jadi salah satu kunci efektif untuk mencegah diri terserang kanker. Menurut penelitian, terdapat hubungan signifikan antara kelebihan berat badan atau obesitas dengan beragam jenis kanker yang kerap menyerang manusia, seperti esofagus, kolektrum, kanker payudara, endometrium dan juga kanker ginjal. Untuk mencegah hal ini, rutinlah mengonsumsi makanan sehat seperti buah-buahan dan sayuran. Diet yang sehat dan teratur diimbangi dengan olahraga rutin bisa jadi cara efektif dalam memerangi kanker.

Selain menjaga makanan dan berat badan, mencegah datangnya kanker juga dapat dilakukan dengan menjauhi segala faktor yang membawa zat-zat pemicu tumbuhnya sel kanker, yakni merokok. Rokok  mengandung banyak zat berbahaya yang dapat merusak tubuh. Rokok diketahui mengandung ribuan zat kimia berbahaya di mana 50 di antaranya dapat menimbulkan beragam jenis kanker, seperti kanker paru, esofagus, laring, mulut, tenggorokan, ginjal, pankreas, saluran kencing hingga kanker serviks. Tidak hanya kanker, kebiasaan buruk merokok juga meningkatkan risiko penyakit kronis lain sehingga membunuh setidaknya enam juta orang tiap tahun. Risiko tersebut tidak hanya mengintai para perokok aktif tapi juga perokok pasif yang menghirup asap rokok dari lingkungan sekitar.

Program Kesehatan Terbaik 2018 Saksikan di JAK TV

Hallo sahabat sehat, Jangan Lewatkan Bincang-bincang kesehatan pengobatan Kanker dan Tumor bersama pengobatan Tramedica.
Setiap hari senin, selasa & rabu pukul 05.00 WIB.

Dapatkan tips-tips kesehatan bersama pakar pengobatan kanker dan tumor dan dapatkan juga Benefit selama Talkshow berlangsung.

Rujukan Terpercaya, Trobosan Baru Pengobatan Kanker & Tumor Tanpa Operasi, Tanpa Kemoterapi. Pengobatan Tramedica.
www.kliniktramedica.net
Call Center: 0812 8710 2727

Benarkah Telepon Genggam Bisa Picu Kanker?

Telepon genggam menjadi salah satu alat elektronik yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sebab, benda tersebut memiliki banyak kegunaan untuk berkomunikasi. Namun jika alat komunikasi ini memang berguna, bagaimana benda ini bisa menjadi pemicu kanker?

Dilansir Newsweek, sejumlah pakar kesehatan mengatakan bahwa kebiasaan membawa telepon genggam ke mana-mana adalah tindakan yang buruk. Itu karena kebiasaan tersebut dapat memberikan pengaruh negatif pada kesehatan kejiwaaan atau mental, termasuk kesehatan fisik.

Terkait hal itu, penelitian yang dilakukan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2011 menyatakan bahwa telepon genggam bisa memberikan paparan radiasi yang bersifat karsinogenik.

Dampak dari paparan tersebut adalah berbagai macam jenis kanker, salah satunya kanker otak. Atas dasar ini, WHO merekomendasikan agar Anda mengawasi serta menghindari penggunaan telepon genggam terlalu lama.

Pro kontra telepon genggam picu kanker

Temuan tentang telepon genggam dapat sebabkan kanker tak serta-merta disetujui oleh kalangan lain. Beberapa peneliti lain bahkan mengatakan bahwa telepon genggam memiliki radiasi yang lebih lemah dibandingkan sinar matahari, sehingga tak akan sanggup memicu kanker pada tubuh.

Berdasarkan ilmu fisika dan biologi, ponsel seharusnya tidak menyebabkan kanker. Gelombang radio yang mereka pancarkan adalah “nonionizing,” yang berarti mereka tidak merusak DNA manusia seperti sinar ultraviolet atau sinar X.

Terlepas dari pro dan kontra yang ada, para ahli belum dapat memastikan bahwa telepon genggam bisa sebabkan kanker. Kendati demikian, penelitian lanjutan terus dilakukan untuk menemukan fakta sebenarnya. Akankah telepon genggam benar-benar terbukti dapat menyebabkan kanker, atau justru sebaliknya?

Bolehkah Penderita Kanker Berolahraga?

Bertarung melawan kanker bukanlah sesuatu yang diinginkan setiap orang, tetapi mau tidak mau harus dihadapi oleh penderitanya. Berbagai modalitas pasti akan terlibat didalamnya, termasuk pola dan jenis makanan, serta aktivitas fisik. Banyaknya pendapat, yang terkadang bertolak belakang, semakin membuat para penderita kanker bingung.

Olahraga Bagi Penderita Kanker

Olahraga bagi penderita kanker, adalah aktivitas yang menuai kontroversi di masyarakat. Sebab banyak yang memahami bahwa istirahat sangat dibutuhkan oleh penderita kanker, selama masa pengobatan dan pemulihan. Namun aktivitas yang dibatasi dapat menurunkan kemampuan fisik dan kekuatan otot, sehingga penderita kanker bisa kesulitan beraktivitas.

Hal tersebut terbukti lewat penelitian Ness dkk. tahun 2006, dimana kemampuan melakukan aktivitas harian lebih dari 50 persen penderita kanker menurun, saat menjalani prosedur pembatasan aktivitas fisik. Jadi tidaklah tepat untuk membatasi aktivitas fisik pada penderita kanker.

Thierry Bouillet, MD, pakar kanker di Avicenne Hospital Paris, menyarankan wanita penderita kanker payudara untuk melakukan aktivitas fisik bersamaan dengan pengobatannya. Pendapatnya didasari pada hasil penelitian yang dipublikasikan di Prancis, bahwa aktivitas fisik berhubungan erat dengan turunnya angka kematian akibat kanker maupun penyakit lainnya.

Namun, ada pula pakar yang masih meragukan tentang perlunya aktivitas fisik pada penderita kanker. Salah satunya adalah Pam Goodwin, pakar kanker University of Toronto’s Mount Sinai Hospital di Toronto, yang menyatakan bahwa masih perlunya bukti tambahan untuk pastikan bahwa aktivitas fisik punya efektivitas baik untuk pasien kanker.

Pam Goodwin juga menambahkan, “saya tidak menentang kalau pasien kanker ingin lebih aktif secara fisik. Masalahnya bukan pada pembatasan aktivitas fisik, tapi belum cukupnya data untuk dengan tegas mengatakan bahwa aktivitas fisik memperbaiki outcome penderita kanker.”

Sebuah fakta menarik soal kanker dan aktivitas fisik pernah dilansir oleh Medscape Education di tahun 2012 lalu, yaitu meningkatnya jumlah survivor kanker di Amerika Serikat dan mayoritas ingin berolahraga untuk tingkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup.

Setelah menganalisa 45 penelitian tentang hubungan aktivitas fisik dan kematian atau biomarker survivor kanker, Dr. Ballard-Barbash dkk menyimpulkan bahwa olahraga pada penderita kanker yang telah selesai menjalani pengobatan dapat memperbaiki fungsi fisik, kualitas dan gairah hidup mereka.

Manfaat Olahraga Bagi Pasien Kanker

Saat ini jelaslah bahwa perdebatan bukan lagi pada boleh tidaknya penderita kanker berolahraga, tetapi pada cukup tidaknya bukti untuk mengatakan bahwa olahraga bagus untuk penderita kanker. Secara umum diakui bahwa olahraga meningkatkan gairah hidup penderita kanker, mencegah hilangnya massa otot akibat pengobatan, dan mengurangi efek samping.

Olahraga juga sangat baik untuk memperbaiki mood, mengurangi insomnia, dan meningkatkan imunitas. Di masa penyembuhan, olahraga dapat mengurangi risiko metastasis dan relaps sehingga meningkatkan angka survival.

Beberapa jenis olahraga yang direkomendasikan untuk penderita kanker, dan yang paling mudah dilakukan, adalah jalan cepat atau jogging ringan, serta bersepeda. Olahraga jenis ini sangat bagus untuk merangsang kekuatan kontraksi jantung, dan memberi suplai udara segar pada penderita kanker yang membutuhkan oksigen untuk metabolisme aerob.

Beberapa jenis makanan diyakini bisa menopang daya tahan penderita kanker yang berolahraga. Hiroaki Nanba Ph.D, Professor of Pharmaceutical University Kobe di Jepang, berhasil membuktikan bahwa Jamur Maitake punya kemampuan menstimuli sistem kekebalan tubuh.

Penemuan Profesor Nanba tersebut membuat Jamur Maitake sangat tepat dikonsumsi penderita kanker yang ingin tetap aktif secara fisik. Kesimpulannya adalah, aktivitas fisik bukanlah hal tabu bagi penderita kanker asalkan dilakukan secara terukur dan ditopang oleh diet yang seimbang.

Terobosan baru pengobatan Kanker dan Tumor. Tanpa Operasi dan Kemoterapi. Pengobatan Tramedica Ratu Givana.

Rujukan Terpercaya Pengobatan Tumor dan Kanker Tanpa Operasi, Tanpa Kemoterapi. Pengobatan Tramedica Ratu Givana kini telah hadir di 19 Cabang di seluruh Indonesia

Konsultasikan Langsung di Alamat Kami : https://kliniktramedica.net/alamat

Call Center : >> 0812 9710 2727 >> 0815 927 2727 >> PIN BB : DC172B7

Penanganan Kanker Tanpa Kemoterapi

Jakarta – Kanker termasuk jenis penyakit yang menjadi pembunuh nomor satu di dunia. Oleh karena itu, pencegahan kanker harus dilakukan sejak dini. Karena, ketika kanker sudah penyebar, perlu penanganan yang sangat ekstra agar penyakit ini tidak menjadi pembunuh.

Di Indonesia, banyak sekali klinik-klinik yang menawarkan penyembuhan dan pengobatan kanker. Namun, tidak banyak yang mendapatkan rekomendasi dari kalangan masyarakat. Klinik Tramedica adalah salah satu klinik pendampingan bagi penderita kanker dan tumor yang banyak direkomendasikan oleh masyarakat.

Selain memberikan edukasi untuk masyarakat untuk peduli terhadap penyebaran kanker, Tramedica juga melayani, memberi solusi penyembuhan dengan ikhtiar secara komprehensip. Beberapa kegiatan yang dilakukan Klinik Tramedia, diantaranya melakukan melakukan pendampingan bagi penderita kanker dan tumor, memberikan tips dan solusi menghadapi kanker dan pencegahannya.

Tramedica mengembangkan penanganan kanker dan tumor tanpa harus melakukan kemoterapi. “Kami peduli terhadap mereka. Kami berempati. Dan jangan biarkan  mereka terpuruk dalam kesendirian dan penderitaan. Pendampingan dan memberikan  spirit buat penderita kanker dan tumor adalah solusi terbaik. Mereka tidak menginginkan hidup dalam derita kanker. Angkat semangatnya, untuk kesembuhannya,” terang Ratu Givana, salah satu pendiri Klinik Tramedica.

Untuk pasien yang datang, Tramedica melakukan upaya conselling, kemudian pendampingan untuk keluar dari masalah yang dihadapi, serta memberikan pengobatan berbasis herbal yang harganya relative terjangkau, dibandingkan harus melakukan pengobatan ke luar negeri atau melakukan kemoterapi.

Penanganan, mulai dari conselling sampai pengobatan, tidak hanya dilakukan, ketika pasien datang ke klinik. Namun, penanganan menyeluruh juga tetap dilakukan, setelah pasien pulang ke rumah. Namun dengan catatan, penanganan pasca kedatangan ke klinik, atas seijin dari pasien atau keluarga bersangkutan.(T-5)